My Blog

Dengan Semangat Sumpah Pemuda, Mari Kita Tingkatkan Rasa Persatuan Dan Kesatuan

Sabtu, 30 Oktober 2010

Memperingati hari Sumpah Pemuda

Beberapahari yang lalu baru saja kita memperingati Sumpah Pemuda. Suatu peristiwa yang tidak dapat dipisahkan dari perjuangan bangsa Indonesia. Perjuangan untuk "membumikan" Indonesia kepada seluruh rakyat Hindia Belanda (baca: Indonesia). Yang semula "Indonesia" hanya dimiliki dan mengumandang pada level tertentu, yaitu pada level anak bangsa yang mengenyam pendidikan.

Tidak begitu banyak acara yang dilakukan dalam memperingati hari sumpah pemuda. Tidak seperti peringatan hari-hari besar. Hari sumpah pemuda ini bahkan tidak ditetapkan menjadi hari libur nasional.

Padahal jika kita perhatikan, dalam perjalanan sejarah bangsa nampak jelas di hadapan kita betapa pentingnya peranan para pemuda dalam membawa bangsa ini kepada keadaan yang lebih baik. Mulai dari keadaan ketika bangsa kita terjajah dan terpecah-belah. Hingga kemudian mulai tumbuh rasa kebersamaan dan senasib se-penanggungan. Akhirnya bersatu dan sama-sama berjuang. Semua dimulai oleh pergerakan para muda-mudi yang kesadaran akan nasib bangsanya mulai tumbuh.
Untuk itu, ditengah momentum Peringatan Hari Sumpah Pemuda, marilah kita belajar dari sejarah sejenak. Sejarah yang diperbuat oleh organisasi-organisasi pemuda di zaman kolonial Belanda. Sejarah ketika bangsa kita masih ditindas oleh bangsa lain. Ketika itu, beberapa organisasi pemuda masih menonjolkan semangat kedaerahannya dan kesukuannya. Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, Jong Ambon merupakan beberapa contoh organisasi pemuda yang masih berbasis kedaerahan.

Menyadari betapa pentingnya persatuan dan kesatuan, mereka berkumpul, bersatu-padu dan saling bahu membahu. Mereka menanggalkan semangat kesukuannya dan kedaerahannya. Mereka menanggalkan kepentingan pribadi dan kelompok untuk kepentingan yang lebih tinggi dan lebih besar. Padahal, pada masa itu Negara Indonesia belum berdiri, bahkan nama Indonesia pun belum secara resmi dipergunakan. Masa itu, kita masih dikenal dengan nama Hindia Belanda.
Kesadaran akan betapa pentingnya persatuan dan kesatuan dalam menghadapi kolonial, dan kesadaran bahwa hanya lewat persatuan dan kesatuan, sehati-sepenanggungan, seia-sekata, berat sama di jinjing ringan sama di pikullah bangsa kita baru dapat bangkit dari keterpurukan belenggu kemiskinan, kebodohan dan terutama belenggu penjajahan. Hal ini terjawab, ketika 17 tahun kemudian, Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar